SBY Desak Perbankan Turunkan Bunga Kredit

Bank Belum Respons Penurunan BI Rate

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuan (BI rate) cukup besar menjadi 7,75 persen. Namun, hingga kini kebijakan itu belum terlihat diikuti perbankan dengan menurunkan suku bunga pinjaman. Sikap perbankan yang mencekik nasabah kredit tersebut mengundang perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.





(GAMBAR KANAN : SITE PLAN AYODHYA CITRA 2 PADA AKHIR BULAN NOVEMBER 2008)


Saat memberikan sambutan dalam Sidang Pleno Dewan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Hotel Shangri-La, Jakarta, kemarin (10/3), SBY meminta agar perbankan menurunkan tingkat suku bunga kredit. Menurut dia, setelah BI menurunkan BI rate, sudah seharusnya perbankan merespons dengan
menurunkan tingkat suku bunga kredit. ''Maksud baik BI harus diikuti oleh jajaran perbankan,'' tegasnya.

( GAMBAR BAWAH: UPDATE SITE PLAN AYODHYA CITRA 2 PER 1 MARET 2009 )



Yang berwarna abu-abu dan atau diberi tanda silang adalah Kavling yang telah terjual, setidaknya 19 unit terjual dalam kurun waktu 3 bulan.
Menurut dia, untuk membuat sektor riil bergerak dan dunia usaha bertahan di tengah krisis, harus ada aliran modal dengan rate yang tepat. SBY menyatakan, perbankan memang memiliki kepentingan untuk memperbaiki neraca keuangan dan kinerjanya akibat krisis ekonomi. ''Saya tahu ini dilakukan untuk memperbaiki bisnisnya masing-masing. Tetapi jangan hanya berorientasi ke dalam tapi juga outlooking sehingga hasil dari policy BI yang tepat segera diikuti oleh jajaran perbankan," ujarnya.

SBY pun berjanji akan membahas tuntas masalah bunga bank tersebut dalam sidang kabinet yang digelar pagi ini di kantor presiden. ''Besok (hari ini, Red) kami bahas di ratas (rapat kabinet terbatas) mengenai implementasinya,'' katanya.

Sebelumnya, Ketua Umum Hipmi Erwin Aksa meminta agar perbankan mengurangi persaingan antarbank, sehingga bisa menekan tingginya suku bunga pinjaman. Dia menuturkan, pihaknya berharap suku bunga pinjaman bank pemerintah turun menjadi 11 persen dan bank swasta turun ke 14 persen.�''Kami berharap suku bunga turun. Bisa 11 sampai 14 persen,'' katanya.

Saat ini, suku bunga pinjaman bank swasta berkisar 16-17 persen, sedangkan bank pemerintah 12-13 persen. Menurut dia, penurunan suku bunga pinjaman ke angka tersebut bisa membantu beban usaha yang selama ini terbebani bunga yang sangat tinggi.

''Kalau suku bunga tidak tinggi, pengusaha tentu bisa menjaga cash flow-nya dengan baik. Kalau cash flow bisa dijaga, tentu pengusaha akan mampu bertahan dalam situasi ini,'' ujarnya.

Selain itu, Erwin menyatakan saat ini perbankan sangat ketat mengucurkan kredit. ''Mereka (perbankan) sangat selektif melihat sektornya dan siapa yang membiayai,'' ungkapnya. Selain ketat, kata dia, jumlah kredit yang dikucurkan sangat berkurang, tidak berani memberikan dalam jumlah besar.

Sidang Dewan Pleno Hipmi berlangsung hingga 11 Maret 2009. Acara tersebut diikuti sekitar 450 peserta dari seluruh Indonesia sekaligus melakukan konsolidasi pengurus pusat dan daerah. Hadir �dalam acara pembukaan kemarin, Ketua DPR Agung Laksono, Wakil Ketua MPR Aksa Mahmud, Menkop UKM Suryadharma Ali, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Senada dengan Erwin, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia M.S. Hidayat mengungkapkan, secara umum, masalah utama di sektor riil ada pada likuiditas perbankan. ''Masalah perbankan yang harus diselesaikan, likuiditas hanya ada di perbankan besar,'' ujarnya.

''Kadin sebenarnya sudah menghimpun pengusaha nasional untuk mau investasi di dalam negeri. Tapi, masalahnya, masih ada problem cash flow di perusahaan yang tidak bisa terbantu karena ketatnya perbankan,'' jelasnya.

Dari penelitian Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia Halim Alamsyah didapatkan kesimpulan, bank swasta paling lambat menurunkan suku bunganya, baik suku bunga deposito maupun kredit, dibanding jenis bank yang lain.

Secara industri, suku bunga kredit saat ini 13,93 persen pada minggu kedua Maret 2009 turun dari posisi akhir Desember 2008 di level 14,2 persen. Sedangkan suku bunga deposito, secara industri telah turun dari 8,75 persen pada akhir Desember 2008 menjadi 8,32 persen.

Menurut Halim, banyak faktor yang menyebabkan suku bunga deposito bank swasta masih tinggi. Di antaranya, jangka waktu bunga dana pihak ketiga, komposisi, atau likuiditas bank swasta yang berbeda-beda. ''Bisa karena likuiditas tidak begitu banyak, sehingga mereka harus cari di pasar uang,'' katanya.

Bagaimana respons kalangan perbankan? Presiden Direktur CIMB Niaga Arwin Rasyid menyatakan, saat ini yang menjadi tantangan bank memang soal penurunan suku bunga. ''Semua bunga harus turun karena itu akan mendorong sektor riil. Kalau sektor riil tumbuh, ekonomi juga tumbuh. Kalau semua mahal, semua jadi slow down juga,'' katanya.

Penurunan BI rate yang dilakukan Bank Indonesia sebanyak tiga kali berturut-turut, lanjut dia, belum tentu membuat perbankan mengambil kebijakan menurunkan suku bunga. ''Hal itu bergantung kondisi likuiditas dan biaya dana. Sebab, masih banyak bank yang menawarkan bunga deposito tinggi,'' ujarnya.

Direktur Bank Mandiri Thomas Arifin menuturkan, jika BI rate kembali turun, akan lebih baik. Namun, penurunan suku bunga pinjaman bergantung pada suku bunga deposito. Perbankan harus menurunkan biaya dananya (cost of fund) lebih dulu sebelum menurunkan suku bunga kredit.(tom/kim)