Ciputra Development: "A National-level Leading Property Developer"


Ciputra Development: "A National-level Leading Property Developer"
KOMPAS/LASTI KURNIA
Tokoh Properti yang juga pendiri University of Ciputra Enterpreneurship Centre (UCEC) Dr (HC) Ciputra menyampaikan orasi ilmiah saat penerimaan gelar Perekayasa Utama Kehormatan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Auditorium BPPT, Jakarta, Rabu (20/8). Penghargaan tersebut adalah yang kedua kalinya setelah sebelumnya diberikan kepada Prof Dr Emil Salim.


Hermawan Kartajaya
"Hermawan Kartajaya adalah pakar pemasaran dari Indonesia. Sejak tahun 2002, ia menjabat sebagai Presiden World Marketing Association (WMA) dan oleh The Chartered Institute of Marketing yang berkedudukan di Inggris (CIM-UK) ia dinobatkan sebagai salah satu dari "50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing". Saat ini ia juga menjabat sebagai Presiden MarkPlus, Inc., perusahaan konsultan pemasaran yang dirintisnya sejak tahun 1989. Selain aktif menulis buku-buku seputar dunia bisnis dan pemasaran Indonesia maupun internasional, ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum di berbagai negara."
Taufik
"Taufik bergabung di MarkPlus, Inc sejak 1 Agustus 1995 dan telah menjalani berbagai posisi di tiga unit bisnisnya: MIM (bergerak di education), MarkPlus Consulting (bergerak di marketing and strategy consulting) dan MarkPlus Insight (bergerak di survey pemasaran). Saat ini, selain menjadi Chief Executive MarkPlus Insight, Taufik juga menjadi Chief Business Officer MarkPlus, Inc sebagai koordinator bisnis di 6 industry practices MarkPlus, Inc: Consumer; Communication, High-tech and Media (CHM); Automotive, Transportation and Logistic (ATL); Financial Services Industry (FSI); serta Resources and Public Services."
(Email : marketing_kompas100@kompas.co.id)
Selasa, 24 Februari 2009 | 09:12 WIB

Seorang pelopor bukan hanya sekedar yang pertama tapi meng-create milestone di sebuah industri.

Inilah yang misalnya bisa dilihat pada diri seorang Ciputra, yang bahkan dikenal bukan hanya sebagai legenda di industri properti tapi juga theme park Indonesia. Seperti sudah menjadi rahasia umum, tangan dingin Ciputra merubah kawasan rawa-rawa di Utara Jakarta menjadi salah satu dari sepuluh besar theme park di dunia. Uniknya, theme park tersebut bahkan bisa mengalahkan Disneyland di Hong Kong.

Mungkin banyak yang belum tahu kalau Disneyland dulu pernah didekati agar mau membangun salah satu theme park-nya di Jakarta. Tapi usaha tersebut tidak berhasil. Bahkan, namanya juga tidak boleh digunakan, sekalipun misalnya mereka tidak keluar uang sama sekali atas theme park yang dibangun di Jakarta.

Ini tidak membuat Ciputra patah arang. Dengan dukungan Gubernur Ali Sadikin yang juga dikenal sebagai gubernur legendaris Jakarta, dibuatlah apa yang kini dikenal sebagai Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) disebuah kawasan yang luas di tepi pantai Jakarta Utara. Selain merupakan integrated entertainment center, bahkan dulu pernah ada arena balap mobil di dalamnya, di sana juga ada areal perumahan. Dimana nilai perumahan tersebut terus meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan ramainya TIJA. Hebatnya, sebagai theme park, TIJA yang ide awal pembuatannya berasal dari Presiden Soekarno untuk diwujudkan Gubernur Soemarno, kini ternyata punya pengunjung lebih banyak dibandingkan pengunjung Disneyland Hong Kong.

Tapi sentuhan Ciputra tidak hanya berhenti di TIJA tapi juga di proyek properti yang juga menjadi icon Jakarta seperti kawasan Pondok Indah, Bintaro Jaya dan Bumi Serpong Damai. Dan masing-masing proyek properti yang kebetulan terletak di kawasan Selatan Jakarta bukan hanya sekedar icon, tapi punya karakteristik yang khas. Pondok Indah sebagai kawasan elit, Bintaro Jaya sebagai kawasan perumahan dan komersial menengah atas yang terpadu dan Bumi Serpong Damai sebagai sebuah kota mandiri.

Meskipun menghasilkan banyak icon, Ciputra ternyata tidak cepat puas. Kebetulan sampai saat ini, hampir semua perusahaan properti Indonesia bermain skala lokal. Ini bisa dimengerti karena untuk mewujudkan proyek properti dibutuhkan 2 kombinasi sekaligus, ketersediaan kawasan yang luas dan pesatnya potensi pengembangan kawasan. Untuk yang pertama, di luar Jakarta, apalagi luar Jawa masih tersedia areal yang luas. Tapi untuk yang kedua, meski banyak kawasan di berbagai daerah yang menawarkan hal tersebut, tapi tidak mudah bagi yang bukan pemain lokal untuk masuk di sana.

Tapi itu tidak menghalangi seorang Ciputra untuk menggarap berbagai proyek properti bukan hanya di Jakarta tapi juga luar Jakarta dan bahkan luar Jawa. Dan untuk keperluan tersebut didirikanlah PT Ciputra Development Tbk (CTRA). Berbeda dengan TIJA ataupun property icons Jakarta, dimana Ciputra punya strategic partner, maka di CTRA adalah sepenuhnya Ciputra. Produk-produknya antara lain Citra Garden City di Barat Jakarta pada tahun 1984, hingga berbagai proyek di luar Jawa, seperti di Bajarmasin dan Palembang yang juga berhasil menjadi icon di daerahnya. Selain itu CTRA juga berfungsi sebagai semacam holding company bagi beberapa perusahaan Ciputra Group dimana CTRA memiliki 51,06 persen PT Ciputra Property Tbk (CTRP) dan 39,92 persen PT Ciputra Surya Tbk (CTRS), dan kebetulan keduanya pernah kami di bahas dalam serial Kompas 100 Marketing Cases.

Sebagian besar proyek CTRA fokus pada pengembangan kawasan, tidak sekedar membangun perumahan. Inilah ciri khas CTRA sebagai developer yang membangun city atau township. Ini berlaku baik untuk kawasan kelas atas seperti CitraRaya Tangerang, yang sempat mendapat penghargaan Best City Planning dari Pacific Coast Builders Conference, San Francisco, USA, hingga kawasan menengah ke bawah, seperti CitraIndah Jonggol.

Dengan model pembangunan seperti ini, CTRA seperti ingin melestarikan ciri khas Ciputra yang merubah kawasan yang semula tidak berharga menjadi sebuah kawasan yang punya nilai tambah tinggi. Dan yang menarik, ini bukan hanya dilakukan di kawasan yang dekat kota besar Indonesia, tapi juga di kota-kota yang tergolong di luar kota utama Indonesia dan sebagian berada di luar Jawa. Langkah seperti membuat CTRA menjadi a national-level property developer.

Ini merupakan sebuah langkah baru, karena banyak perusahaan properti yang memilih untuk berkonsentrasi di kota atau pulau tertentu. Soalnya menciptakan nilai tambah sebuah kawasan bukanlah sebuah langkah yang mudah, apalagi kalau dilakukan di tempat-tempat dengan tingkat potensi pengembangan kawasan yang berbeda-beda, yang sesuai dengan pesatnya perkembangan sebuah kota atau properti. Dan hal tersebut terakhir inilah yang menurut kami akan menciptakan sebuah tantangan tersendiri bagi CTRA. Terutama untuk mendapatkan pihak-pihak yang punya visi yang sama dalam pengembangan suatu kawasan di kota atau propinsi yang berbeda. Kalau ini bisa dilakukan, maka CTRA bukan hanya sekedar property developer yang beroperasi nasional tapi bahkan juga menjadi yang terbanyak secara nasional dalam menciptakan kawasan baru bernilai tambah tinggi.

Prospek Properti di Daerah Cerah

JAKARTA, KAMIS — Perkembangan properti di luar Jakarta sangat menjanjikan. Ini sejalan dengan pembangunan di daerah-daerah seiring diberlakukannya kebijakan otonomi daerah.

Demikian diungkapkan Ketua Asosiasi Real Estate dan Broker Indonesia (AREBI) Tirta Setiawan, di Jakarta, Kamis (19/2).

Tirta memberi contoh, pada tahun 2000, harga lahan di Mojokerto Rp 50.000 per meter persegi. Kini, dengan adanya pembangunan jalan tol Mojokerto-Surabaya, harga lahan di sekitar jalan tol tersebut melonjak sekitar 600 persen, menjadi Rp 300.000 per meter persegi.

"Begitu juga di Serpong. Di Gading Serpong, pada tahun 2000 harga lahan masih Rp 300.000 per meter persegi. Kini, harganya sudah mencapai Rp 2.400.000 per meter persegi," ujar Tirta.

Terkait perumahan murah, Tirta mengatakan, salah satu hambatan pertumbuhannya adalah ketentuan down payment atau uang muka. Menurutnya, banyak sekali masyarakat kelas menengah ke bawah yang mampu membayar cicilan bulanan, tetapi tidak memiliki uang muka yang umumnya mencapai 20 persen dari harga jual.

Hunian Ekspatriat Datangkan Pendapatan Rp 25 Triliun

KOMPAS/RIZA FATHONI
Pembangunan apartemen di kawasan Permata Hijau, Jakarta, Selasa (8/1). Bank Indonesia mempertahankan suku bunga sebesar 8 persen. Suku bunga yang stabil diharapkan dapat memberikan harapan cerah bagi iklim investasi.

JAKARTA, KAMIS - Kebijakan Pemerintah yang memperpanjang hak kepemilikan hunian bagi orang asing dari 25 tahun menjadi 70 tahun telah mendatangkan pendapatan yang berarti.

Ketua DPP Pengusaha Real Estate Indonesia (REI) Teguh Satria memperkirakan, sebanyak 10.000 orang asing akan membeli apartemen pada tahun 2009 mendatang. Jika satu unit apartemen tersebut Rp 2,5 miliar, maka uang yang mengalir ke Indonesia dapat mencapai Rp 25 triliun per tahun.

"Hal ini belum termasuk biaya hidup, pajak, serta penyerapan tenaga kerja," ujar Teguh pada acara Markplus Conference 2009, Kamis (11/12) di Pacific Place, Jakarta.

Teguh juga memperkirakan pertumbuhan properti pada tahun 2009, khususnya perumahan, akan mengalami pertumbuhan sebesar 20 persen dibandingkan tahun 2008.

Sementara itu, tanpa merinci, Ketua REI ini juga memperkirakan nilai subsidi apartemen bersubsidi akan meningkat dari Rp 500 miliar di tahun 2008, menjadi Rp 2.500 miliar pada tahun 2009.

Teguh menambahkan, saat ini terdapat 258 tower apartemen di Jakarta, yang semuanya ready pada tahun 2009. Lebih luas, Teguh mengatakan, pesta rakyat alias pemilihan umum 2009, alih-alih membawa dampak negatif, sebenarnya membantu perekonomian di Indonesia, termasuk industri percetakan, makanan, penerbangan, dan lainnya.

"Jika 200.000 calon anggota legislatif mengeluarkan dana kampanye Rp 200 juta, maka uang yang dapat diserap pasar mencapai Rp 40 triliun. Hal ini belum termasuk pemilihan presiden, dan kampanye partai politik," ujarnya.