Albert Wibisono Mengantar House of Sampoerna Menjadi Ikon Wisata Surabaya



Letaknya cukup ''nyelempit'' di antara permukiman penduduk. Tapi, House of Sampoerna (HoS) cukup dikenal, terutama di Surabaya. Tempat itu adalah gabungan galeri seni, kafe, dan museum berisi memorabilia keluarga Sampoerna. Bekal bangunan berarsitektur indah dan sejarah keluarga yang kuat dimanfaatkan maksimal oleh Albert Wibisono.

Apakah sejak awal HoS dirancang dengan konsep seperti ini?

Sebenarnya tidak. Jadi begini, tempat ini dulu bernama Plant Taman Sampoerna. Dipakai untuk tempat produksi dan kantor marketing area Surabaya. Pada 2002, tempat ini direstorasi. Rencananya untuk tempat kunjungan mahasiswa. Biasa kan, banyak mahasiswa yang melakukan company visit ke suatu perusahaan.

Nah, karena banyak. Kami tidak mungkin menerima semuanya di pusat kami di Rungkut sana. Nanti kami tidak bisa bekerja karena menerima mereka terus-menerus. Hehehehe. Akhirnya, diputusin untuk merenovasi tempat ini. Nanti, semua company visit diarahkan ke sini.

Mengapa sekarang konsep tersebut berubah?

Nah itu. Kabar restorasi terdengar oleh Bu Katie Sampoerna, istri Pak Putera Sampoerna. Beliau termasuk orang yang tidak mau yang setengah-setengah. Akhirnya, daripada hanya dibuat company visit, dia minta dibikin sesuatu yang jauh lebih bagus.

Pokoknya, kalau sama Bu Katie, tidak ada yang namanya biasa-biasa saja. Karena beliau orangnya artistik. Akhirnya, jadilah bangunan House of Sampoerna yang seperti ini. Saat restorasi berjalan, saya diminta mengurusinya. Saat itulah saya putuskan untuk menjadikan HoS sebagai tempat wisata di Surabaya.

Apa pertimbangannya?

Sebelum bergabung dengan Sampoerna, saya sempat menjadi dosen di Universitas Surabaya (Ubaya). Saya yang merintis program international village. Karena itu, saya sering mendapat tamu dari luar negeri. Waktu itu, saya sempat kesulitan mengajak mereka keliling Surabaya. Sebab, tidak ada objek wisata yang cukup menarik di sini.

Tempat wisata alam tidak ada. Pantai, Anda tahu sendiri bagaimana. Nah, berbekal pengalaman itulah saya pikir kenapa tidak bikin museum aja. Tapi, yang memiliki konsep jelas. Nah, keluarga Sampoerna sudah punya bekal yang bagus. Bangunan mereka ada. Mereka juga punya sejarah yang bagus tentang bagaimana mengembangkan pabrik rokok yang kecil menjadi besar seperti sekarang dalam waktu yang cukup panjang.

Anda yakin konsep tempat wisata seperti itu bisa berhasil, mengingat Surabaya memiliki banyak museum tapi sepi pengunjung?

Memang berat ya. Tapi, saya yakin bisa. Apalagi, saya mendapat dukungan Pak Angky Camaro (sekarang Presdir PT HM Sampoerna). Beliau bilang, wis ndak papa. Kamu bikin aja. Paling tidak, ada saya dan tamu-tamu saya yang nanti berkunjung. Hehehe. Ternyata, sampai sekarang, tamu perusahaan hanya 5 persen dari total pengunjung HoS. Saya rasa, masyarakat Surabaya lah yang berperan besar mengembangkan HoS.

Apa beda HoS dengan museum lainnya?

Kemasan dan pelayanan. Itu kuncinya. Bagaimana kita mengemas benda yang dipamerkan beserta ceritanya. Agar ketika orang melihat, tahu kenapa benda itu bersejarah. Jadi, tidak hanya asal taruh. Mesin ketik kuno, misalnya. Kalau cuma dipajang, orang tidak akan tertarik. Tapi, kalau diberi kisahnya, apa saja yang terlahir dari mesin ketik itu, mereka akan menjadi semakin menarik. Lalu, pelayanan. Kami berusaha memberikan pelayanan semaksimal mungkin. Kami juga punya staf yang setiap saat siap membantu pengunjung museum.

Apakah galeri seni, kafe, dan toko suvenir juga masuk dalam rencana awal?

Pasti. Sekarang kita pakai logika saja. Kalau kita mengunjungi tempat wisata. Apa yang harus ada? Sesuatu untuk dilihat kan? Nah, kami sudah punya bangunan yang begitu indah dan bernilai sejarah. Lalu, benda-benda bersejarah milik keluarga. Itu kan bisa dinikmati. Agar bervariasi, ditambah galeri seni.

Setelah melihat-lihat, orang pasti lapar. Makanya, ada kafe. Biasanya, kalau hendak pulang, orang pasti ingin suvenir dari tempat itu kan? Itu kami penuhi dengan toko suvenir. Jadi, semua kami padukan di sini.

Sejak awal, HoS memang tidak ditujukan untuk mencari keuntungan. Karena itu, museum tidak mengutip biaya masuk. Karena itu, biaya operasionalnya kami ambilkan dari pemasukan kafe dan toko suvenir.

Apakah benda yang dipamerkan di museum akan terus diperbarui?

Kami memang punya satu orang yang diberi tugas sebagai history researcher. Sebab, kita tahu, berapa puluh tahun sudah generasi Sampoerna ini berkembang. Tapi, kalau benda, kami tidak secara khusus mencari. Malah, ada sebagian masyarakat yang peduli pada museum kami dan menyumbangkan koleksi mereka yang berkaitan.

Misalnya, pemutar piringan hitam. Itu milik seorang kolektor yang diserahkan kepada kami setelah melihat tulisan Sampoerna Theater di baliknya. Lalu, ada pita cukai yang merupakan koleksi pencinta produk Sampoerna. Yang begitu itulah yang membantu kami berkembang dan bertahan sampai sekarang. (any rufaidah/dos)



Note: Gambar disamping adalah Update Kavling di Ayodhya Citra 2 yang terjual per tanggal 23 Februari 2009 .