Mantan Baby Sitter Jadi Ratu Bisnis Rumah Sewaan




Intan Aprilia. Nama yang satu ini cukup populer di kalangan ekspat di Tanah Air. Bahkan, kalangan kedubes asing dan perusahaan multinasional yang ada di Indonesia banyak yang mencari dan merekomendasi namanya untuk menggunakan jasanya. Siapa sih Intan? MC, entertainer, atau penyanyi dangdut?

Bukan. Intan yang satu ini bisa dijuluki sebagai ratunya bisnis rumah sewaan bagi kalangan ekspat. Bagaimana tidak. Wanita kelahiran Yogyakarta, 4 April 1969 ini mengelola ratusan rumah di Jakarta, di samping 27 vila di Bali. Dari sejumlah rumah dan vila yang dikelolanya itu, beberapa di antaranya merupakan miliknya sendiri – walaupun ia enggan mengungkapkan berapa persisnya.

Istimewanya, rumah-rumah sewaan yang dikelola Intan itu berlokasi di daerah komunitas ekspat. Antara lain di kawasan Kemang, Cipete, Cilandak, Kebayoran Baru, Pondok Indah, Menteng dan Kuningan. Umumnya, rumah yang disewakan untuk para ekspat ini memiliki ukuran luas 250-300 m2. Kebanyakan memiliki tiga-empat kamar, taman dan kolam renang. Untuk rumah dengan kriteria seperti itu, Intan mematok tarif US$ 3-4 ribu per bulan (dengan masa sewa minimum setahun). Namun, jika salah satu atau dua kriteria tidak terpenuhi, tarifnya bisa kurang menjadi US$ 1-2 ribu per bulan.

Dengan terbuka Intan mengaku mengutip fee 5% dari nilai sewa tentunya untuk rumah yang bukan miliknya. Selain itu, Intan masih mendapatkan komisi 5%-10% dari biaya desain interior, jika penyewa menginginkan interior rumah sesuai dengan keinginannya. Intan pun masih memperoleh fee 10%-15% dari perusahaan asuransi. Pasalnya, wanita yang fasih menguasai beberapa bahasa asing seperti Inggris, Jerman dan Prancis ini, mewajibkan kepada para pemilik supaya mengasuransikan rumah yang akan disewakannya itu. Proses pengurusan asuransinya dilakukan oleh Intan, yang memang sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan asuransi kerugian Allianz Indonesia.

Adapun untuk vila, biaya sewanya Rp 300 ribu per hari untuk kelas standar, yakni vila yang hanya memiliki dua kamar dan tidak ada kolam renang. Sementara untuk kelas VIP, tarifnya mulai US$ 300 per hari. Seperti halnya untuk sewa rumah, dari sewa vila ini Intan mengutip fee 5%.

Lantas, apa jurus mantan baby sitter ini sehingga namanya sering direferensikan orang? “Saya tidak pernah melakukan promosi. Modalnya networking dan kepercayaan saja. Kuncinya, saya keep-in-touch terus dengan mereka,ucap Intan. Tentunya, saya juga mesti tahu taste dan ekspektasi si ekspat ini seperti apa.

Kedubes Belanda, misalnya, sejak 1999 hingga sekarang selalu memakai jasa Intan untuk mencarikan rumah bagi warganya yang akan bermukim di Indonesia. Begitu pula, perusahaan pertambangan Conoco, sudah sejak lama menjadi pelanggannya. œPihak embassy dan perusahaan tahu nama saya, karena direkomendasikan oleh mantan klien yang sudah balik ke negaranya, ujar perempuan yang sehari-hari mengemudikan BMW seri 3 terbaru ini.

Klaim Intan dibenarkan salah satu mantan kliennya, ekspat asal Prancis bernama Christine, 47 tahun. Menurut mantan aktivis LSM yang sekarang berprofesi sebagai guru privat dan penerjemah ini, ia datang ke Jakarta pada Desember 2001. Ketika itu saya langsung mengontak Intan, karena diberi tahu pihak kedubes di sini, kenang Christine. Ketika itu, ia menyewa sebuah rumah di kawasan Menteng dengan tarif US$ 1.000 per bulan. Saya berteman baik dengan Intan. Saya juga suka rekomendasikan nama Intan kalau ada orang Prancis yang cari rumah di Indonesia, tutur wanita yang masih melajang ini.

Toh, keberhasilan Intan di bisnis penyewaan rumah itu tidak diraihnya secara gampang. Banyak liku-liku hidup yang telah dia alami. Sebenarnya, saya bercita-cita ingin menjadi guru, tetapi orang tua tidak merestui, kenang Intan. Oleh karena itu, sekolahnya di sebuah SPG di Yogyakarta hanya berjalan dua setengah bulan. Selanjutnya, Intan mengembara ke Jakarta dan bekerja sebagai baby sitter di sebuah keluarga ekspat asal Inggris. Gaji yang diterimanya Rp 95 ribu per bulan. Untungnya, Intan diperbolehkan ikut sekolah sore. Pekerjaan ini hanya dilakoninya selama 8 bulan, karena pegawai lain merasa iri atas perbedaan perlakuan yang diterima Intan.

Wanita yang kini memiliki sekolah kelompok bermain di Yogyakarta dan Bali ini balik lagi ke kampung halaman, bekerja sebagai penjaga rumah dan toko seorang warga keturunan Cina. Seperti majikan sebelumnya, Intan pun diperbolehkan ikut sekolah sore di SMEA Budi Dharma. Setelah mengantongi D-1 bidang sekertaris, Intan bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan pemasok alat-alat laboratorium, PT Hartex. Sementara malam harinya ia mengambil kuliah D-3 Jurusan Public Relations di Universitas Sahid. Dari Hartex, Intan sempat bekerja di perusahaan trading asal Cekoslowakia, ICEC. Ia juga pernah menjadi sekertaris di perusahaan jasa konsultan asal Korea, Rural Development Consultant.

Dunia properti mulai disentuhnya pada 1995, ketika ia menjadi staf pemasaran di perusahaan agen properti PT Alfi yang menyewakan rumah untuk ekspat. Sayangnya, pada 1998 ketika krisis moneter perusahaan itu gulung tikar. Namun, ini malah menjadi blessing in disguise bagi Intan. Banyak klien yang mendukung saya supaya meneruskan jasa keagenan ini. Oleh karena itu saya memberanikan diri. Lagi pula, saya ingin bekerja fleksibel dan mandiri,Intan menguraikan. Lalu, ia mendirikan Global City Service Jakarta yang sekarang bernama PT Global Intan Service. Berkat keseriusan dan kepiawaiannya membangun jejaring, bisnis penyewaan rumahnya berkembang, hingga ia sendiri bisa memiliki beberapa rumah untuk disewakan.

Menurut Intan, potensi bisnis penyewaan rumah untuk ekspat cukup menjanjikan. Di Jakarta saja saat ini terdapat sekitar 80 ribu ekspat. Ia memperkirakan, jika kondisi sosial politik Indonesia kondusif seperti sebelum krisis, jumlah ekspat pun akan terus bertambah. Di sisi lain, rumah yang hendak disewakan jumlahnya terus meningkat. Bisnis ini sangat menjanjikan. Buktinya, agen properti yang bermain sangat banyak,Intan menandaskan.



Yohanes Ruddy Sukamto di Balik Hi-Tech Mall




Surabaya punya ikon teknologi informasi (TI). Namanya Hi-Tech Mall. Padahal, sepuluh tahun lalu, pusat perbelanjaan di Jalan Kusuma Bangsa itu nyaris ditutup. Keuletan Yohanes Ruddy Sukamto tidak hanya menyelamatkannya, tapi juga mengubahnya menjadi sukses hingga sekarang.

Dari mana ide menjadikan Hi-Tech Mall sebagai pusat teknologi informasi?

Karena tinggal itu satu-satunya. Semua produk sudah dicoba, baju dan segala macam, tapi tetap ndak laku. Hahahaha. Tapi, waktu itu sekitar 1999 atau 2000 ya, saya lupa. GM Sasana Boga (pemilik dan pengelola Hi-Tech Mall) mundur. Saya asistennya. Saya dipanggil pemilik dan dibilangi, mau tutup atau terus? Saya bingung.

Kalau tutup, 600 orang akan nganggur. Kalau terus, saya harus cari konsep. Akhirnya, ada teman saya di Intel Processor yang menyarankan saya bisnis TI. Sebab, dunia ini akan terus berkembang. Apalagi, waktu itu belum banyak orang Indonesia yang memiliki komputer. Akhirnya, saya pikir kenapa tidak? Kalau gagal, ya sudah, tutup tidak apa-apa. Kita kan sudah mencoba.

Apa tantangan terberat waktu itu?

Sama pemilik, saya diketawain. Wong jualan baju ndak laku kok jualan komputer. Tapi, saya bilang, tidak ada salahnya dicoba. Akhirnya, para pemilik mau memberi saya kesempatan. Tantangan lainnya adalah meyakinkan orang agar mau berbisnis di sini. Soalnya, tidak sedikit yang enggan karena kondisi fisik gedung yang kurang menarik. Tapi, saya berusaha meyakinkan mereka. Kami menyasar buying shopper. Orang-orang yang datang karena berbelanja. Bukan window shopper yang jalan-jalan aja.

Mengapa waktu itu tidak melakukan perombakan pada fisik gedung?

Karena tidak memungkinkan. Wong itu kami sudah hendak tutup. Pemilik nyaris menyerah karena rugi, kok saya malah minta modal tambahan lagi. Nanti pikire mereka arek iki gendeng. Hahahahaha. Jadi, ya saya harus memanfaatkan apa yang ada saja.

Apa resep yang digunakan hingga Hi-Tech Mall bisa jadi seperti sekarang?

Dalam pusat perbelanjaan seperti kita, harus ada tiga pihak yang terlibat. Retailer atau pengecer kecil. Lalu, ada distributor yang menjadi agen produk. Sebab, komputer adalah produk yang rentan dengan dolar. Jadi, retailer jarang punya stok sendiri. Mereka bekerja sama dengan distributor. Lalu, ada juga yang namanya vendor alias pemilik merek. Mereka harus ada untuk showroom-nya, menyiapkan informasi produk ke masyarakat. Nah, saya berusaha menghadirkan ketiganya.

Kalau strategi pemasarannya, bagaimana?

Saya punya konsep one stop shopping. Jadi, menyediakan semuanya. Mulai hardware berupa perangkat komputer. Entah itu berupa PC (personal computer) atau notebook. Lalu, kami juga menyediakan software. Juga, ada pelatihan. Jadi, komputer adalah bisnis yang berkembang. Makanya, sekarang kami punya ruang workshop dengan 50 PC.

Ada target untuk tahun-tahun mendatang, mengingat kompetitor sekarang bermunculan?

Saya ingin melakukan pelatihan ke berbagai daerah. Sebab, saya ingin meniru Tiongkok yang punya jaringan IT di mana-mana. Jadi, mungkin ada Hi-Tech Mall di Jember, Madiun, dan sebagainya. Saya juga terus berusaha melakukan inovasi. Misalnya, mengadakan even-even seperti Surabaya Technology Fair atau mewadahi semua komunitas pengguna komputer di Surabaya. Mulai komunitas Linux, blog, bahkan gamers pun saya tampung di sini.

Saya ingin masyarakat menganggap komputer itu bukan barang mahal. Ibaratnya begini. Kalau mau menjual pulpen ke orang buta huruf, tentu sulit kan. Agar mudah, saya harus mengajari orang buta huruf itu mengenal satu per satu alfabet. Setelah itu mengajarinya membaca serta menulis dengan pulpen. Kalau sudah tahu kemampuan pulpen, orang itu akan tahu dan membeli pulpen kan? Hahaha...

Anda sukses karena gila kerja?

Tidak. Saya bukan orang gila kerja. Malahan, saya tidak mau mengurusi pekerjaan kalau sudah ada di rumah. Maksudnya, kadang otak ini tetap berpikir, tapi saya tidak mau membawa berkas-berkas pekerjaan ke rumah. Sebab, itu tidak akan maksimal.

Mungkin kuncinya adalah saya tidak suka menunda pekerjaan. Misalnya pekerjaan hari ini, ya harus diselesaikan hari ini. Apa pun risikonya. Soalnya, saya ini orangnya moody. Kalau misalnya tidak saya selesaikan hari ini, siapa tahu mood saya besok jadi jelek. Bukannya selesai, malah jadi berantakan. Iya kan? (any rufaidah/dos)

Tentang Ruddy

Nama : Yohanes Ruddy Sukamto

Tanggal lahir : 27 Oktober 1960

Istri : Bertha Kartika Dewi (43)

Anak : 1. Octavianus Richard S. (16)

2. Septianda Angelica S. (13)

Pendidikan : SDK St Aloysius Surabaya

SMPK Angelus Custos Surabaya

SMA Trimurti Surabaya

Fakultas Hukum Universitas Surabaya

Karir : - Sales Representatif PT Sasana Boga

Aktifitas lain : - Sekjen Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APBI) Jatim

- Anggota komunitas penghobi sepeda ISIS (Ingat Sehat Ingat Sepeda)