A Ha....!! Gong Xie Fa Choi

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Dahlan Iskan : Tionghoa, Dulu dan Sekarang (1)
Hollands Spreken, Peranakan, dan Totok
Waktu itu belum ada negara yang disebut Indonesia, atau Malaysia, atau Singapura. Tiga negara itu masih jadi satu kesatuan wilayah ekonomi dan budaya. Kalau ada orang dari Tiongkok yang mau merantau ke wilayah itu, apa istilahnya? Tentu tidak ada istilah "mau pergi ke Indonesia". Atau "mau pergi ke Malaysia". Mereka menyebutkan dengan satu istilah dalam bahasa Mandarin: xia nan yang. Artinya, kurang lebih, turun ke laut selatan.

Wilayah yang disebut "nan yang" itu bukan satu kesatuan dan bukan pula satu tempat tertentu. Kalau ditanya xia nan yang-nya ke mana? Barulah ditunjuk satu nama tempat yang lebih spesifik. Misalnya, akan ke Ji Gang (maksudnya Palembang). Mereka tidak tahu nama Palembang, tapi nama Ji Gang terkenalnya bukan main. Maklum, Ji Gang adalah salah kota terpenting yang harus didatangi misi Laksamana Cheng He (Cheng Ho). Ji Gang (artinya pelabuhan besar) memang jadi tempat tujuan utama siapa pun yang xia nan yang.

Kalau tidak ke Ji Gang, mereka memilih ke San Bao Long. Maksudnya: Semarang. Atau ke San Guo Yang, maksudnya Singkawang. Atau ke Ye Chen, maksudnya Jakarta. Atau Wan Long, maksudnya, Bandung. Mereka tidak tahu nama-nama kota di wilayah nan yang seperti nama yang dikenal sekarang. Semua kota dan tempat yang mereka tuju bernama Mandarin.

Gelombang xia nan yang itu sudah terjadi entah berapa ratus tahun lalu, bahkan ribu tahun lalu. Bahkan, saya tidak tahu mana nama yang digunakan lebih dulu: Palembang atau Ji Gang. Pontianak atau Kun Tian. Surabaya atau Si Shui. Banjarmasin atau Ma Chen. Migrasi itu berlangsung terus, sehingga ada orang Tionghoa yang sudah ratusan tahun di wilayah nan yang, ada juga yang baru puluhan tahun. Waktu kedatangan mereka yang tidak sama itulah salah satu yang membedakan antara satu orang Tionghoa dan Tionghoa lainnya.

Maka, masyarakat Tionghoa di Indonesia pernah terbagi dalam tiga golongan besar: totok, peranakan, dan hollands spreken. Yang tergolong totok adalah mereka yang baru satu turunan di Indonesia (orang tuanya masih lahir di Tiongkok) atau dia sendiri masih lahir di sana. Lalu ketika masih bayi diajak xia nan yang. Yang disebut peranakan adalah yang sudah beberapa keturunan lahir di tanah yang kini bernama Indonesia. Sedangkan yang hollands spreken adalah yang -di mana pun lahirnya- menggunakan bahasa Belanda, mengenakan jas dan dasi, kalau makan pakai sendok dan garpu, dan ketika Imlek tidak mau menghias rumah dengan pernik-pernik yang biasa dipergunakan oleh peranakan maupun totok..

Yang peranakan umumnya bekerja di sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan. Mereka berbahasa Jawa, Minang, Sunda, Bugis, dan bahasa di mana mereka tinggal. Mereka menyekolahkan anaknya juga tidak harus di sekolah Tionghoa.

Saya pernah menghadiri peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) Bandung di Hongkong yang diselenggarakan masyarakat Hongkong kelahiran Bandung. Meski sudah puluhan tahun bukan lagi WNI, tapi di pertemuan itu hampir semua bicara dalam bahasa Sunda.

Yang hollands spreken umumnya menjadi direktur dan manajer perusahaan besar yang waktu itu semuanya memang milik Belanda. Atau jadi pengacara, notaris, akuntan, dan profesi sejenis itu yang umumnya memang memerlukan keterampilan bahasa Belanda. Ini karena mereka harus melayani keperluan dalam sistem hukum yang berbahasa Belanda dengan aparatur yang juga orang Belanda.

Sedang yang totok, umumnya menjadi penjual jasa dan pedagang kelontong. Lalu jadi pemilik bengkel kecil. Lama-kelamaan mereka inilah yang memiliki pabrik-pabrik.

Karena kesulitan berbahasa (Belanda, Indonesia, maupun bahasa daerah) golongan totok menjadi "tersingkir" dari pergaulan formal yang umumnya menggunakan tiga bahasa itu.

Sebagai golongan yang terpinggirkan, orang totok harus bekerja amat keras untuk bisa bertahan hidup. Pada mulanya mereka tidak bisa bekerja di pabrik karena tidak "nyambung" dengan bahasa di pabrik. Mereka juga tidak bisa bertani karena untuk bertani memerlukan hak atas tanah. Mereka hanya bisa berdagang kelontong dari satu kampung ke kampung lain dan dari satu gang ke gang yang lain. Kalau toh mencari uang dari pabrik, bukan secara langsung namun hanya bisa berjualan di luar pagarnya: menunggu karyawan pabrik bubaran kerja.

Golongan peranakan lebih kaya, tapi status sosialnya masih kelas dua. Status sosial tertinggi adalah golongan hollands spreken. Sedangkan status sosial terendah adalah totok. Anak-anak golongan hollands spreken umumnya harus kawin dengan yang hollands spreken. Yang peranakan dengan peranakan. Demikian pula yang totok dengan totok. "Kalau kamu kawin sama anak totok, nanti kamu makan pakai sumpit," kata-kata orang tua si hollands spreken. "Kalau kawin dengan peranakan, nanti kamu makan pakai tangan."

Sedangkan orang totok biasa menghalangi anaknya kawin dengan hollands spreken dengan kata-kata, "Kamu nanti jadi orang yang tidak tahu adat." Atau, "tidak mau lagi menghormati leluhur."

Yang hollands spreken umumnya menyekolahkan anaknya di sekolah berbahasa Belanda. Atau mengirim anak mereka ke Holland atau Jerman. Yang peranakan mengirim anaknya ke sekolah terdekat, termasuk tidak masalah kalau harus ke sekolah negeri. Yang totok menyekolahkan anaknya ke sekolah berbahasa Tionghoa. Semua itu terjadi dulu.

Bagaimana sekarang?

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Tionghoa Bersambut, Bagaimana Yin Ni Hua Ren?

Zaman berubah. Bahkan, setelah kejatuhan Orde Baru, perubahan itu begitu drastisnya, sehingga terasa terlalu tiba-tiba. Belum pernah orang Tionghoa mendapat posisi sosial-politik sehebat sekarang. Sampai akhir Orde Baru pun, kita tidak akan menyangka bahwa kita bisa berubah sedemikian hebat.

Memang terlalu banyak orang Tionghoa yang jadi ''tumbal'' untuk perubahan itu. Yakni, mereka yang menjadi korban peristiwa Mei 1998 di Jakarta yang jadi awal ''zaman baru'' bagi Tionghoa Indonesia itu.

Tapi, juga terlalu banyak untuk disebutkan jasa pejuang demokrasi seperti Amien Rais, Gus Dur, dan seterusnya, yang meski secara khusus perjuangan dan pengorbanan mereka tidak dimaksudkan untuk membela golongan Tionghoa, tapi hasil perjuangan itu secara otomatis ikut mengangkat posisi sosial-politik masyarakat Tionghoa menjadi sejajar dengan suku apa pun di Indonesia.

Kini, pada zaman baru ini, penggolongan lama ''totok, peranakan, dan Hollands spreken'' sama sekali tidak relevan lagi. Bukan saja tidak relevan, bahkan memang sudah hilang dengan sendirinya. Kawin-mawin antartiga golongan itu sudah tidak ada masalah sama sekali. Status sosial tiga golongan tersebut juga sudah tidak bisa dibedakan. Jenis pekerjaan dan profesi di antara mereka juga sudah campur-baur. Membedakan berdasar di mana sekolah anak-anak mereka juga sudah tidak berlaku.

Berkat demokrasi, pembedaan berdasar apa pun tidak relevan lagi. Bahkan, pembedaan model lama antara hua ren dan penti ren tidak boleh lagi. Tapi, bukan berarti tidak ada masalah. Misalnya, dalam zaman baru ini, bagaimana harus mengidentifikasikan dan menyebut hua ren?

Saya pernah menghadiri satu seminar yang diadakan INTI di Jakarta. Dalam forum itu, antara lain, disinggung soal bagaimana harus menyebut orang Tionghoa di Indonesia dalam bahasa Mandarin. Kalau panggilan nonpribumi sudah tidak relevan dan seperti kelihatan antidemokrasi, lantas kata apa yang bisa dipakai untuk menyebutnya dalam bahasa Mandarin?

Dalam bahasa Indonesia, semua sudah seperti sepakat bahwa sebutan Tionghoa adalah yang paling menyenangkan. Tionghoa sudah berarti ''orang dari ras cina yang memilih tinggal dan menjadi warga negara Indonesia''. Kata Tionghoa sudah sangat enak bagi suku cina tanpa terasa ada nada, persepsi, dan stigma mencina-cinakan. Kata Tionghoa sudah sangat pas untuk pengganti sebutan ''nonpri'' atau ''cina''.

Saya sebagai ''juawa ren'' (meski xian zai wo de xin shi hua ren de xin) semula agak sulit memberi penjelasan kepada pembaca mengapa menyebut ''cina'' tidak baik? Apa salahnya? Luar biasa banyaknya pertanyaan seperti itu. Terutama sejak Jawa Pos Group selalu menulis Tionghoa untuk mengganti kata nonpri atau cina.

Jawa Pos memang menjadi koran pertama di Indonesia yang secara sadar mengambil kebijaksanaan tersebut. Memang ada yang mencela dan mencibir bahwa Jawa Pos tidak ilmiah. Juga tidak mendasarkan kebijakan itu pada kenyataan yang hidup di masyarakat, yakni bahwa semua orang sudah terbiasa menyebut kata ''cina''. Mengapa harus diubah-ubah?

Saya tidak bisa menjawab dengan alasan bahwa kata cina itu terasa ''menyudutkan'' dan ''menghinakan''. Mereka akan selalu bilang bahwa ''kami tidak merasa seperti itu''. Atau, mereka akan mengatakan ''Ah, itu mengada-ada''. Bahkan, ada yang bilang, ''Kok kita tidak ada yang tahu ya bahwa sebutan cina itu melecehkan''.

Memang, kenyataannya sebenarnya seperti itu. Tapi, juga tidak mengada-ada bahwa golongan Tionghoa merasa seperti itu. Setidaknya sebagian di antara mereka yang lama-lama menjadi mayoritas di antara mereka. Yakni, sejak awal Orde Baru, sejak ada desain dari penguasa waktu itu bahwa penyebutan kata ''cina'' bukan lagi untuk identifikasi ras saja, tapi juga untuk ''menyudutkan'' ras tersebut. Yakni, untuk ''mencina-cinakan'' mereka dalam konotasi yang semuanya jelek.

Tentu, tidak semua orang Tionghoa tahu itu. Bahkan, banyak orang Tionghoa yang mengatakan ketika dipanggil ''cina'' juga tidak merasa apa-apa. Lebih dari itu, kata Tionghoa berasal dari bahasa daerah di Provinsi Fujian-Guangdong dan sekitarnya.

Lalu, bagaimana dengan orang ''cina'' yang dulunya berasal dari luar wilayah itu? Tapi, adanya latar belakang pencina-cinaan itulah akhirnya yang membuat umumnya orang Tionghoa dari mana pun asal-usulnya dulu ikut tahu dan merasakan penyudutan tersebut.

Lalu, bagaimana saya bisa menjelaskan kepada pembaca koran Jawa Pos Group agar bisa menerima istilah Tionghoa sebagai pengganti ''cina''? Terutama bagaimana saya bisa meyakinkan para redaktur dan wartawan di semua koran Jawa Pos Group (tentu tidak mudah karena kami memiliki sekitar 100 koran di seluruh Indonesia) yang semula juga sulit diajak mengerti?

Untuk ini, saya harus mengucapkan terima kasih kepada pemimpin INTI, khususnya Eddy Lembong yang sangat cerdas itu. Entah bagaimana, Eddy Lembong bisa menemukan adanya salah satu ayat dalam ajaran Islam yang kalau diterjemahkan artinya begini: ''Panggillah seseorang itu dengan panggilan yang mereka sendiri senang mendengarnya''.

Ini dia. Saya dapat kuncinya. Saya dapat magasin berikut pelurunya. Maka, saya pun menjelaskan bahwa tidak ada orang ''cina'' yang tidak suka kalau dipanggil Tionghoa. Sebaliknya, banyak orang Tionghoa yang tidak senang kalau dipanggil ''cina''. Dengan logika itu, apa salahnya kita menuruti ayat dalam ajaran Islam tersebut dengan memberikan panggilan yang menyenangkan bagi yang dipanggil?

Mengapa kita harus memanggil ''si gendut'' untuk orang gemuk atau ''si botak'' terhadap orang yang tidak berambut, meski kenyataannya demikian? Atau, kita memanggil dengan ''si kerbau'' meski dia memang terbukti bodoh?

Kini, setelah lebih dari delapan tahun Jawa Pos Group menggunakan istilah Tionghoa, rasanya sudah lebih biasa. Juga lebih diterima.

Yang masih sulit adalah justru bagaimana orang Tionghoa Indonesia sendiri menyebut dirinya dalam bahasa Mandarin? Apakah masih ''women zhong guo ren''? Atau ''hua ren''? Atau ''Yin Ni Hua Ren''? Lalu, bagaimana orang Tionghoa menyebut Tiongkok dalam pengertian RRC? Masihkah harus menyebutnya dengan ''guo nei''?

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Ketika Muslim Tionghoa Merayakan Imlek
Tetap Beri Angpau, Ganti Hidangan Babi dengan Sapi


Warga Tionghoa yang beragama Islam tetap merayakan tradisi Imlek. Mereka membuat kue nian gao, bikin pohon meihwa, serta bagi-bagi angpau. Adakah ritual yang diganti?

Novita Amelilawaty, Jakarta

Bagi muslim Tionghoa, tradisi Imlek tak akan pernah ditinggalkan. Mereka tetap berbondong-bondong belanja untuk kebutuhan Imlek. Misalnya, yang dilakukan Julian Latif dan Hariyanto. Mereka adalah pengusaha yang sama-sama bergabung di Muslim Tionghoa dan Keluarga (Mustika).

Julian mengatakan, secara garis besar, tidak ada perbedaan dalam merayakan Imlek ketika dirinya masih memeluk Buddha dan sesudah menjadi muslimah. "Saya dibesarkan di keluarga Tionghoa asli. Jadi, sudah mengenal ritual-ritual yang dilakukan Ama (nenek) dan Akung (kakek)," kenang Julie -sapaan akrabnya- ketika ditemui di toko IT miliknya di Mangga Dua Mall, Jakarta. Wanita yang masuk Islam sejak SMA atau pada 1989 itu mengaku, perbedaan antara perayaan Imlek dulu dan sekarang hanya pada ritual sembahyang di kuil.

"Sejak masuk Islam, saya tidak pernah lagi ke kuil," kata Julie. Tetapi, dia masih berdoa di meja abu tempat keluarga meletakkan abu jenazah leluhur. "Berdoa dan berziarah kan tidak dilarang Mbak, tak harus di kuil," lanjutnya. Ada beberapa perayaan lain yang masih diikuti Julie, seperti cheng beng (untuk orang mati), malam che it, malam cap go, serta ziarah ke makam nenek, kakek, dan ayahnya. Ritual, seperti sembahyang di Ching The Yen, tuang minyak, dan bakar hio, sudah ditinggalkan.

Selain itu, Julie dan anaknya senang berbelanja pohon meihwa dan amplop untuk angpau. Julie menceritakan, tradisi angpau tak pernah dia tinggalkan, meski sudah beragama Islam. "Saya sediakan untuk anak-anak yang datang ke rumah," katanya, kemudian tersenyum. Bunga-bunga sedap malam, pohon jeruk, dan anggrek tak luput dari incarannya. "Saat ini, rumah saya mulai dihiasi pohon-pohon dan sedap malam," ujarnya.

Lain yang dilakukan Julian, lain pula yang dilakukan Hariyanto. Pria bernama asli Liem Tjeng Lie itu adalah pengusaha EO dan biro travel umrah dan haji di Jakarta.

"Apa yang saya lakukan di tahun baru Imlek mungkin dilakukan juga oleh umat Islam Tionghoa lainnya," kata Hariyanto.

Ketika ditemui Indo Pos (Jawa Pos Group), pria beranak dua itu tengah berbelanja kebutuhan Imlek di Grand Indonesia Shopping Town Jumat lalu (23/1). Hariyanto membeli sekeranjang penuh buah-buahan manisan khas Imlek, seperti ceremai merah Singapura, jeruk linkit/kitna, dan plum bulu. "Ini yang chen liang ji, rasanya enak sekali," lanjutnya.

Hariyanto pernah memeluk tiga agama sebelum mantap di Islam pada 1998. Dia pernah memeluk Buddha, Kristen, dan Katolik. Saat memeluk tiga agama tersebut, Hariyanto tetap mengikuti ritual Imlek, mulai sembahyang di kuil sampai menyediakan makanan dan minuman khas Imlek. Tetapi, setelah memeluk Islam, dia tak lagi ke kuil.

Kegiatan yang paling menyibukkan selama Imlek bagi Hariyanto adalah menyiapkan menu khas Imlek. Makanan yang selalu ada ketika masih beragama nonmuslim adalah pindang bandeng; masakan kesukaan leluhurnya seperti babi kecap, dan hoysom; serta buah-buahan seperti anggur, apel, dan jeruk. Tak ketinggalan manisan buah yang manis-manis dan berwarna merah. Untuk minuman, di rumah Hariyanto selalu tersedia kopi, teh, arak, angchu (wine), dan rokok.

Namun, sejak memeluk Islam, Hariyanto merombak total menu makanan dan minuman Imlek-nya. Misalnya, babi kecap diganti dengan semur daging sapi atau kerbau, sesuai shio tahun. Lalu, anggur/wine yang mengandung alkohol diganti dengan sirup stroberi atau ceri merah. Begitu pula dengan arak China diganti dengan sirup leci. "Secara penampilan sama warnanya, tetapi halal," kata Hariyanto. Kue-kue yang tersedia serbamanis, termasuk kue keranjang yang direbus atau digoreng dengan telur. "Kue itu wajib hadir di rumah kami karena simbol kemakmuran, manis," lanjutnya.

Membeli baju baru juga merupakan tradisi keluarga Hariyanto pada malam Imlek. Ketika semua orang yang murni merayakan Imlek sembahyang ke kuil, Hariyanto justru shopping bersama anaknya.

Sebelum tidur, Hariyanto memasukkan uang lima ribuan dan lima puluh ribuan ke dalam amplop merah. "Isi angpau," ujarnya. Angpau itu diberikan kepada keponakan-keponakannya yang berkunjung. Satu yang pertama diminta anak-anaknya adalah angpau di pagi hari. "Kalau sudah salat Subuh, langsung tagih angpau," tuturnya, kemudian tertawa.

Sama seperti muslim Tionghoa lainnya, di Tahun Kerbau ini, Hariyanto berharap yang manis-manis untuk kehidupannya kelak. "Semoga usaha saya lancar, diberikan kemakmuran, dan banyak rezeki," harapnya. Dia yakin doanya akan terkabul karena dirinya sudah menyebutkan permohonan tiga kali. "Permohonan di tahun baru Masehi, tahun baru Islam, dan nanti di tahun baru Imlek," kata Hariyanto, kemudian tersenyum. (kum)


Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Shio Kerbau, Obama Dinaungi Keberuntungan
Akankah tahun kerbau ini membawa perubahan? Dari kacamata peramal Fengshui Tiongkok, tahun ini akan sama saja dengan tahun sebelumnya. Itu karena tak ada api, satu dari lima elemen mistis pembentuk alam semesta (logam, kayu, air, api, dan bumi) atau disebut Wu Xing. Padahal, menurut mereka, api adalah faktor esensial untuk mengatasi krisis finansial global yang kini terjadi.

''Api adalah penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Tanpa itu, pasar kekurangan momentum,'' kata Raymond Lo, master feng shui Hongkong.

Peramal Tiongkok juga melihat adanya gejala resesi makin parah, pengangguran makin tinggi, saham kian anjlok dan harga rumah akan makin jatuh. Selain bidang ekonomi, juga ada prediksi-prediksi lain, yakni, akan terjadi gempa bumi dahsyat, hubungan Amerika Serikat dan Rusia makin runcing dan sejumlah masalah akan mendera presiden baru Amerika Serikat, Barack Obama. Kebetulan, Obama lahir pada tahun kerbau. Dan, dia kini menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat, angka yang menyiratkan ketidakberuntungan. Di Tiongkok, angka empat sama artinya dengan kematian.

Namun, jangan buru-buru panik dulu. Tahun kerbau ini juga menyiratkan keberuntungan dan harapan. Itu karena kerbau memiliki sifat gigih dan bersemangat baja. Jadi, separah apapun krisis yang kini melanda, bila semangat masih membuncah, bakal teratasi. Bila berkaca pada sejarah, tahun 1949 juga adalah tahun kerbau.

Sebelum tahun itu dunia dihinggapi krisis lebih parah, yakni perang dunia. Tahun 1949 menjadi titik balik dunia. Tahun itu terjadi sejumlah peristiwa penting yakni berdirinya NATO, Jerman terbelah jadi dua, Republik Rakyat Tiongkok berdiri. Tahun itu pula Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Vietnam juga merdeka pada tahun tersebut. Tahun 2009 berpeluang mengulang sejarah itu.

Apalagi, para pemimpin top dunia tercatat lahir pada tahun kerbau. Antara lain, Napoleon Bonaparte, Hitler, Saddam Hussein, Putri Diana, Margaret Thatcher, dan Richard Nixon.

Dan terakhir, Barack Hussein Obama, presiden baru Amerika Serikat berdarah Afrika Amerika yang dengan lantang menyuarakan perubahan. Mampukah? Waktu yang akan membuktikannya.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Jika Imlek Hujan, Rezeki Lebih Lancar?
Apa makna perayaan Imlek bagi para tokoh Tionghoa yang juga pengusaha sukses berikut ini? Dirut PT Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan selalu merayakan Imlek seperti halnya tahun baru Masehi dan Idul Fitri.

"Wong seneng-seneng aja kok," tutur Irwan. Ingatannya lantas terbawa ke tahun 1965. Ketika itu umurnya sekitar 18 tahun. "Waktu itu saya sering dipanggil Cino. Itu jelas-jelas perlakuan diskriminatif. Tapi, sekarang terjadi perubahan luar biasa," ujarnya.Bahkan, papar dia, saat ini bukan hanya etnis Tionghoa yang merayakan Imlek. Semua orang ikut merayakan sesuai dengan tradisi Tionghoa. "Coba pergi ke Jawa, yang main barongsai ya orang Tionghoa, Jawa, Batak. Menurut saya, itu kemajuan yang fundamental," terangnya.

Alim Markus lain lagi. Menurut Presiden Direktur Grup Maspion tersebut, Imlek berarti harus kembali bekerja. Itulah hakikat sejati Imlek yang harus diresapi oleh seluruh masyarakat etnis Tionghoa. Dengan begitu, pergantian tahun dimaknai sebagai kehidupan yang lebih baik daripada tahun sebelumnya. Di Indonesia, Imlek dimaknai dengan lebih mistik. Jika terjadi hujan, berarti kehidupan atau rezeki tahun depan akan lebih baik. Kalau tidak ada hujan, berarti seret. "Padahal, Imlek selalu bertepatan dengan musim penghujan, berarti untung terus ha..haa..," ucapnya.

Dia menyatakan, bagi Indonesia, dilegalisasinya perayaan Imlek merupakan sebuah anugerah nyata.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI
Para Peramal Bicara Peruntungan di Tahun Kerbau
Waspadai Binatang Pembajak yang Bisa Memberontak


Tahun Tikus berakhir hari ini, Tahun Baru Imlek 2560. Setelah ''era'' tikus, kini giliran masa kerbau. Aswin Wibisono dan Suhu Jimmi Kurniawan punya pendapat soal tahun anyar tersebut.

IGNA ARDIANI ASTUTI

KERBAU yang ''merajai'' tahun ini dipercaya sebagai kerbau tanah. Secara garis besar, mereka yang dinaungi shio tersebut sangat tulus hati, dapat diandalkan, bertanggung jawab, dan pekerja ulet. Pembawaannya pun tenang dan sabar. Meski terlihat kalem, sekali dibuat jengkel, si kerbau bisa mengamuk habis-habisan.

Tahun Kerbau tanah yang berlangsung mulai 26 Januari 2009 sampai 13 Februari 2010 itu, menurut Aswin Wibisono, awalnya memang terlihat tenang seperti sifat hewan pembajak itu. Namun, karena banyaknya kejadian-kejadian yang merangsang, si kerbau pun berontak.

Hal tersebut ditandai dengan pergolakan di mana-mana. Mulai demo, kerusuhan, hingga saling menjelek-jelekkan satu sama lain. ''Pergolakan itu terjadi akibat suasana politik yang tidak baik. Terutama saat pemilu nanti,'' kata Aswin. Celakanya, kondisi politik yang carut-marut tersebut berdampak buruk terhadap rakyat kecil. Ekonomi terguncang.

Guncangan itu memang tak berlangsung lama. Suhu Jimmi Kurniawan mengatakan, beberapa bulan setelah pemilu, kondisi ekonomi bangsa perlahan-lahan membaik. ''Kisarannya sekitar Agustus,'' ujar pria 63 tahun tersebut.

Membaiknya ekonomi itu diikuti iklim usaha yang makin kondusif. Karena tahun ini elemennya tanah, usaha-usaha yang masuk unsur kayu bakal moncer. Elemen kayu berjaya. Sebab, kayu merupakan elemen yang menguasai tanah. Usaha yang berkategori kayu itu, misalnya, tekstil, kertas, dan surat kabar. Mereka yang menekuni usaha ekspor dan impor juga menuai hasil yang memuaskan.

Unsur tanah yang kurang baik berpengaruh terhadap unsur besi. Besi pun ikut tidak baik. Karena itulah, bidang usaha yang termasuk dalam elemen besi akan tersendat-sendat. Misalnya, bank, asuransi, saham, mesin, alat berat, dan elektronik.

Sesuai dengan sifat kerbau yang pekerja keras dan ulet, mereka yang rajin akan banyak mendapat limpahan rezeki. ''Tahun ini adalah tahun pekerja. Kerbau yang malas tentu tidak akan mendapat apa-apa,'' ungkap Aswin.

Soal kondisi alam, Aswin maupun Jimmi mengatakan, beberapa bencana masih akan mewarnai sepanjang tahun ini. Misalnya, gempa bumi dan tanah longsor. Namun, korban tidak begitu banyak. Menurut prediksi Jimmi, bencana paling parah terjadi pada September atau Desember. ''Gempa bumi,'' ucapnya. Yang juga perlu diperhatikan, akan ada banyak penyakit yang melanda tahun ini. Terutama, penyakit yang berkaitan dengan saluran cerna.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Imlek Masih Ikut Orang Tua
Leony Vitria Hartanti mengaku tak punya tradisi khusus pada tahun baru Imlek. Bintang sinetron yang juga mantan personel Trio Kwek Kwek itu mengatakan, dirinya tidak mempersiapan apa-apa menjelang Imlek karena semua ditangani orang tua.

Meski sudah beranjak dewasa dan berpenghasilan sendiri, Leony merasa setiap tahun, setiap Imlek, belum ada perubahan. Masih sama dengan ketika dia kanak-kanak. ''Semua sudah dipersiapkan'Papa. Makanya aku'nggak pernah sibuk setiap perayaan Imlek,'' ujarnya saat dihubungi Jawa Pos Rabu pekan lalu (21/01).

Tradisi juga membuatnya tidak repot menyiapkan uang angpao untuk dibagikan kepada keluarga dan saudara. Sebab, dia belum menikah. Aturannya, yang boleh memberi hanya yang sudah menikah. ''Paling aku cuma kebagian membagikan angpao dari Papa karena kata Papa yang memberikan angpao itu hanya yang sudah nikah,'' jelas perempuan kelahiran 20 September 1987 itu.

Apa harapan dan doa Leony dalam memasuki tahun'kerbau merah sekarang ini? ''Sebenarnya kalau berharap-berharap gitu, aku sama keluarga tak pernah mengikutinya. Cuma yang namanya harapan pasti mau yang terbaik ya,'' jawab mantan kekasih Eross Chandra, gitaris Sheila On 7, itu.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Praktik Diskriminasi Sudah Selesai
Ketika menjadi presiden menggantikan Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional. Itu terjadi pada 17 Februari 2002. Berikut petikan wawancara dengan Megawati.

-----

Bagaimana Anda melihat perayaan Imlek tahun ini?

Menurut saya, perayaan Imlek tahun ini tidak seramai dan semeriah tahun lalu. Mungkin karena semua orang tahu, saat ini keadaan ekonomi masyarakat terganggu dengan masalah ekonomi nasional dan global. Namun, kondisi ini hendaknya tidak mengurangi makna perayaan tahun baru Imlek itu sendiri.

Apa pertimbangan Anda ketika memutuskan Imlek sebagai hari libur nasional?

Pertama, karena larangan perayaan Imlek telah dicabut. Pertimbangan berikutnya, lahir dari harapan masyarakat yang ingin agar ada hari libur untuk merayakan Imlek. Sebagai bangsa yang menjunjung keberagaman serta mengingat cukup banyaknya masyarakat etnis Tionghoa, sudah selayaknya kita memberikan kesempatan untuk merayakan tahun baru Imlek, seperti halnya kita memberikan kesempatan untuk merayakan tahun baru Masehi, tahun baru Hijriah maupun tahun baru Galungan.

Menurut Anda, apakah praktik diskriminasi negara terhadap etnis Tionghoa saat ini sudah selesai?

Secara normatif, hal ini sudah selesai. Kita sudah memiliki UU Kewargenegaraan yang cukup jelas serta peraturan lain yang memberikan kesempatan sama kepada seluruh warga negara Indonesia, termasuk di dalamnya yang beretnis Tionghoa. Namun, memang masih ada kendala kultural di lapangan. Tidaklah mudah mengubah kerangka berpikir masyarakat yang selama ini sudah dicekoki ketakutan untuk menghargai keberagaman selama 30 tahun lebih. Ini menjadi tantangan bagi kita semua, bagaimana menjadikan keberagaman etnis, adat, ataupun agama yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai hal yang mempersatukan kita dan mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata dunia.

Apa harapan Anda terhadap etnis Tionghoa di Indonesia?

Kontribusi yang saya harapkan, impikan dari seluruh bangsa Indonesia, tidak hanya pada etnis Tionghoa adalah suatu hal yang amat penting. Yaitu, bangsa Indonesia bisa memperbaiki mental diri masing-masing untuk bisa percaya. Mempunyai keyakinan bahwa bangsa Indonesia bisa maju ke depan, bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. Bisa sekuat dan sekukuh bangsa lain serta mempunyai harga diri dan martabat sebagai sebuah bangsa besar.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Saya Keturunan Tan Kim Han
Di beberapa kesempatan, Gus Dur kerap mengungkapkan bahwa dirinya masih memiliki darah Tionghoa. Meski demikian, dia menegaskan, pembelaannya terhadap warga kelompok minoritas itu selama ini bukan semata-mata karena faktor keturunan.

Menurut Gus Dur, nenek moyangnya memang asli dari Tiongkok. Yaitu, duta besar Tiongkok di masa Kerajaan Majapahit. Namanya Tan Kim Han. Saat tinggal di tanah Jawa, dia menikah dengan Tan A Lok yang merupakan saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.

Tan A Lok dan Tan Eng Hwa merupakan anak putri Campa. Yaitu, seorang putri dari Tiongkok yang merupakan salah seorang selir Raden Brawijaya V. "Tan Kim Han ini dikenal sebagai orang Tiongkok yang rajin ibadah," ujar Gus Dur kepada Jawa Pos.

Karena itu, menurut mantan presiden ke-4 RI itu, oleh masyarakat, Tan Kim Han diberi panggilan Syekh Abdul Qodir Al-Shini. Berdasar penelitian seorang peneliti Prancis Louis-Charles Damais, Tan Kim Han diidentifikasi sebagai seorang tokoh yang makamnya ditemukan di Trowulan, Jawa Timur.

"Kalau diurut-urut lagi, sampai di Sunan Ampel yang salah satu keturunannya adalah Kiai Hasyim Asyari, kakek saya. Tapi, ya itu tadi, sudah bercampur-campur dengan Arab dan India," tambah pendiri PKB tersebut.

Meski demikian, lanjut Gus Dur, bukan darah Tionghoa yang membuat dirinya begitu getol membela kelompok minoritas. Namun, lebih karena komitmennya menegakkan pluralisme di Indonesia. "PKI kan juga saya bela, TAP MPR tentang PKI juga sudah saya cabut," jelasnya.

Ketika menjadi ketua umum PBNU, Gus Dur pernah membela pasangan Tionghoa yang ngotot menikah secara Konghucu. Padahal, saat itu pemerintah belum mengakui Konghucu sebagai agama.